Orang Asing (L’Étranger) adalah novel Albert Camus yang paling lembut. Terbit pada 1942, novel pendek ini bercerita tentang Meursault. Anak muda Aljazair ini linglung dalam menunggu harihari eksekusi. Ia beranggapan segala hal di luar dirinya adalah absurd, sementara orang lain menganggap Meursault gila. Ia, misalnya, malah minum kopi ketika ibunya meninggal; malah bercinta dengan pacarnya saat mendapat kabar duka. Meursault menolak menjenguk ibunya. Ia datang ke pemakaman tanpa raut sedih.
Yang membuatnya masuk penjara adalah perbuatan sadisnya. Ketika bermain ke pantai dengan pacar dan temannya, ia lihat teman kawannya bertengkar dengan dua orang Arab. Meursault mendatangi mereka lalu menembak salah satu Arab. Tubuh yang tergeletak itu ditembak lagi empat kali.
Camus menceritakan pembunuhan itu dengan mencekam. Robert Smith membacanya. Anak nyentrik ini kemudian menulis lirik seputar pembunuhan itu dan memadukannya dengan bunyi gitar. Hasilnya sebuah lagu berjudul
Killing An Arab. Produser rekaman Polydor tertarik. Maka, untuk pertama kalinya, Smith dan empat temannya merekam lagu itu pada 1978. Killing An Arab merupakan lagu tunggal pertama The Cure. Lagu itu langsung melejit dan menuai protes. The Cure dituding rasis. Dalam konserkonser mereka di Eropa, setelah lagu itu masuk album pertama, Three Imaginary Boys, frase dan judul itu diubah menjadi ”kissing an Arab”. Dalam reffrain, Smith menulis: Absolutely nothing I’m alive I’m dead I’m the stranger Killing an Arab.
Jika The Cure mengadopsi seluruh cerita Camus, vokalis Queen, Freddie Mercury, hanya terinspirasi ketika menulis Bohemian Rhapsody, sebuah nyanyian panjang yang memadukan a cappella, balada, opera, dan rock sekaligus. Majalah Rolling Stone menobatkan lagu ini sebagai nyanyian sepanjang zaman. Sama seperti Orang Asing, Bohemian juga bercerita tentang seseorang yang linglung dan terasing. Mercury menulis: Mama, ooh, I don’t want to die, I sometimes wish I’d never been born at all.
Bukan kebetulan jika Mercury menulis ”bismillah” tiga kali dalam lagu itu. Bismillah! No, we will not let you go. Besar dalam keluarga penganut Zoroaster, ia tentu akrab dengan kalimat ini. Camus, kemudian, memberi ilham lewat cerita absurdnya itu.